Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

The Marineton's Tale (Part 2)


Grassland adalah sebuah pulau dengan kota maju di sebelah barat pulau Marineton. Mereka sudah punya tentara sendiri. Pemimpin Grassland, yaitu Boris Gant sangat angkuh dan tamak. Obsesinya adalah menguasai sluruh daerah dsekitar Grassland termasuk Marineton.

Pemimpin angkatan perang Grassland tak lain adalah putra tunggal Boris. Yaitu Randall tak kalah bengis nya dengan sang ayah. Dialah yang saat ini memimpin penyerangan terhadap Marineton. Atas perintah ayahnya. Disisi lain di Marineton, semua orang cemas. 

Tn.Zuree menunjuk Urz sebagai pemimpin pasukan bersenjata di barisan depan. Senjata yang mereka miliki sederhana. Bila dibandingkan lawan. Pasukan Marineton bersiap dengan tombak dan perisai masing-masing digaris pantai. Memantau kapal-kapal Grassland yg makin mendekat. Terasa sekali aura kecemasan di wajah para tentara muda ini. Urz melihatny lalu berkata :
"Aku tau kalian cemas! Tapi kita tak boleh gentar! Kita harus berperang demi tanah kelahiran kita! Jangan gentar!!!!"
"UWOOOOOOO" sahut para tentara muda. Kini mereka lebih semangat.
Dengan semangat berkobar, mereka "menyambut" tentara Grassland yang sudah mulai turun dari kapal mereka. Posisi merapat dan tanpa celah.
Terdengar suara Randal Gant dari atas dek kapal yang paling depan. "SERAAANGG!!!".
Urz pun berkomando "MAJUUU!!!"

Terjadi pertempuran sengit hidup dan mati di pesisir pantai Marineton. Para tentara mati-matian memperjuangkan tanah mereka dari penjajahan. Tapi tentara Marineton tidak bisa di samakan dengan tentara terlatih milik Grassland. Mereka kalah dari segi jumlah maupun strategi.

Akhirnya, sedikit demi sedikit barisan pertahanan Marinton berguguran. Melihat hal ini Urz-pun memerintahkan tentara untuk mundur sejenak.

Mereka pun mundur ke arah hutan untuk bersembunyi. Sambil mengintai pergerakan pasukan Grassland. Terlihat Randall telah turun dari kapal. Urz terus mengintai, sambil perlahan mendekat kearah luar hutan dimana pasukan Grassland berkumpul memikirkan strategi selanjutnya. Tak lama kemudian seorang prajurit menepuk punggung Urz.. Betapa kagetnya dia, mengira akan tertangkap. "Mau apa kau?" Desisnya.
"Urz, berapa lama lagi kita bersembunyi? Teman-teman kita harus diobati. Atau mereka akan mati kehabisan darah!" Ternyata itu Thomas. Sahabat Urz. Yang sekarang bisa dikatakan sebagai tangan kanannya

Sungguh dilemma untuk Urz, yang diberikan tanggung jawab memimpin tentara. Namun harus menjaganya juga. Akhirnya Urz memrintahkan para tentara yg terluka mundur, tapi tidak kembali ke desa. Melainkan kearah tebing. Dimana Sofia & yang lainnya sembunyi.

Disaat Urz ingin mengendap-endap lagi untuk mengintip para prajurit Grassland, dia terkejut mendapati bahwa mereka tidak lagi disana. Urz pun panik. Bagaimana ini? Lalu dia mengumpulkan prajurit yang tersisa.
"Sekarang kita harus bergegas kembali ke pemukiman, kita buat pertahanan disana." Katanya.

Disisi lain, di goa persembunyian dimana Sofia berada. Para prajurit yang terluka baru saja tiba disana.
"Astaga!! Apa yang terjadi dengan kalian?? masuklah, biar luka kalian dirawat oleh Mama Joya" Kata Sofia yang sedang berdiri di depan goa.

Tanpa sepengetahuan orang-orang. Ternyata Randall dan pasukannya telah mengikuti mereka sedari tadi. Sialnya, hampir seluruh penghuni Marineton mengungsi disana, tanpa pertahanan. "Sasaran yang empuk" Batin Randall

Alih-alih langsung menyerang, Randall memerintahkan untuk menunggu sebentar sampai waktunya tepat. Saat itu tepat tengah malam, maka Randall memerintahkan pasukannya untuk siap-siap menyerang tempat persembunyian itu. Strateginya adalah menyandera para penduduk Marineton, sehingga Tn.Zuree mau memberikan kekuasaannya atas Marineton. Dengan cermat Randall memberi aba-aba bagi prajuritnya untuk maju sedikit demi sedikit, sebelum akhirnya mengepung tempat itu. Orang-orang didalam sudah tertidur. Semua sesuai rencana.

Randall masuk terlebih dahulu. Untuk memeriksa. Dengan seutas tali, dia langsung menjerat orang pertama yang dia lihat, yaitu Sofia. Sofia terperanjat bangun, namun tak sempat berteriak karena sudah dibekap. Oleh telapak tangan besar Randall. Diikuti oleh prajurit lain, mereka membekap, menjerat dan mengikat mereka. sasaran mereka, wanita dan anak-anak.

Berapapun perlawanan yg diberikan tidak berarti bagi tentara Grassland yg bertubuh tegap dan besar. mereka diikat dan dibopong ke kapal secara sembunyi-sembunyi. Semua begitu cepat. Tapi Sofia tak mau menyerah. Dia terus meronta di bahu Randall yang membopongnya. Beruntungnya, Urz mendengar suara teriakannya.
"Hey, kau dengar tidak? Ada yang berteriak dari sana" kata Urz pada kawanannya. Mereka mencari sumber suara tersebut
"Hey! Kau!!! Turunkan aku sekarang! Apa maumu???" Jerit Sofia
"Diam kau cerewet! Atau kuhabisi kau disini" jawab Randall dingin. Mereka sudah didekat kapal, para sandera disembunyikan..
"Sofiaaa!!!" Terdengar teriakan Urz. Ternyata dia mengejar, namun terlambat. Kapal Grassland sudah berjalan membawa para tahanan barunya
"Sialan!! Mereka menculik semua wanita dan anak-anak!" Kata Thomas pada Urz.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang Urz?" Tetapi Urz tidak menjawab. Dia masih memandangi kapal yang membawa Sofia.
"Kita harus memberi tahu Tn.Zuree, sekarang keputusan ada ditangan dia. Namun bagaimana cara menjelaskan kepada orang-orang bahwa keluarga mereka diculik?"


Dikapal, seluruh tahanan dimasukkan kedalam suatu ruangan tertutup, pengap dan gelap. Anak-anak mulai menangis ketakutan. Suara tangisan anak-anak ini semakin keras, & terdengar oleh Randall. Dan dia amat terusik dengan suaranya. "Suruh mereka diam!!" Bentaknya
Mereka pun berhenti menangis karena bentakan Randall, tapi hanya sebentar lalu tangisan pun berlanjut semakin nyaring. Wajah Randall berubah panik karena suara mahanyaring itu. Dia benar-benar membencinya. Namun tak sanggup menyentuh anak-anak itu sedikitpun. Ternyata dia masih punya hati.

Lalu dia menunjuk Sofia "Kau! Lalkukan sesuatu! Buat mereka diam, atau akan kulempar mereka ke laut sekarang juga”
"Eh? Kenapa aku?" Kata Sofia.
"Jadi kau mau melihat mereka kubuang ke laut?" Randall melotot.
 "Err..baik..baik..kau tak harus segitunya" Jawab sofia, sedikit menyembunyikan ketakutannya.

Donna pun melakukan triknya, trik paling ampuh yang bisa membuat anak-anak ini diam. Ya, dia bernyanyi.. Dengan suaranya yang amat merdu. Sekejap anak-anak itu terdiam dan berhenti menangis. Dan Randall hanya bisa terkesima.

Kamis, 08 Maret 2012

The Marineton's Tale (Part 1)


Dahulu kala, di sebuah pulau kecil di tengah samudra pasifik, terdapat sebuah desa dimana semua penghuninya mengenal satu sama lain . Desa tersebut tentram, dan tenang. Semuanya bagaikan sebuah keluarga. Memang tidak begitu banyak penduduknya, tak sampai 100 kepala keluarga. 

Desa Marineton namanya. Ya, tentu saja karena dekat pantai jadi namanya begitu. Suatu hari Sang kepala desa, Tuan Zuree mengumumkan. Bahwasanya dia dan istrinya Ny. Mingli akhirnya akan segera memiliki seorang bayi. Seluruh desa Marineton gegap gempita mendengarnya. Seorang bayi yang ditunggu-tunggu selama 12tahun lamanya oleh keluarga kepala desa itu. Dikatakan bahwa Ny. Mingli akan melahirkan kurang dari 6bulan lagi. Maka seluruh desa mempersiapkan kelahiran bayi tersebut. 

Mereka melakukan upacara-upacara ritual kepada dewa-dewa, juga emberikan persembahan kepada penjaga samudera selama 6bulan terus menerus. Semuanya berharap yang terbaik bagi kelahiran sang jabang bayi. Dan hari yang dirunggu-tunggu pun akhirnya datang. Tabib pun sudah bersiap. Empat jam lamanya persalinan, dan tepat pukul 00.01 sang bayi lahir kedunia. Seorang putri, mungil dan cantik. Dia dinamai Sofia.

Sofia tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu, semua orang mencintainya. Tn. & Ny. Zuree pun amat bahagia. ada sesuatu dalam diri Sofia yang membuat semua orang benar-benar jatuh hati. Yaitu suaranya yang amat merdu. Dia bernyanyi setiap harinya. Semua penduduk desa sudah mengetahui soal keindahan suara Sofia. Tidak perlu diragukan lagi. Saatnya mengundang David foster ke marineton. Bukan, maksudnya, ya suara Sofia sangat merdu. Sampai-sampai semua pemuda di sana jatuh cinta. Selain karena dia cantik, dan ramah.


Pada ulangtahunnya yang ke-17 sebuah pesta diadakan. Awalnya semua berjalan sesuai rencana, dan langit pun tiba-tiba gelap. Kemudian dari antara kerumunan tamu yang datang, muncullah Doriri, seorang peramal desa yang agak sinting berlari ke arah Tn.Zuree
"Tuan! Tuanku! Kita Celaka! Kita akan celaka!!"
"Apa yang kau maksud Doriri? Mengapa kita harus celaka?"
"Hamba mendapat penglihatan!!"
"Penglihatan apa maksudmu? Apa yang telah kau lihat?" Seluruh tamu juga menunggu jawabannya, walau tidak semua mereka percaya pada Doriri.
“Hamba melihat kita.. Marineton.. err Kita..." Doriri terdengar ragu.
"Segera katakan atau kau kuusir dari sini, karena kau telah mengusik pesta putriku Sofia"
"Sesungguhnya, hamba melihat Marineton..." Doriri melangkah mendekat dan sedikit berbisik. "Marineton akan hancur lebur..."
Seluruh penduduk ketakutan, dan beberapa dari mereka agak pucat mendengarnya.
"Doriri! Kau sudah kelewatan! Sekarang pergi!" Amuk T

Sabtu, 28 Januari 2012

Donna (pt 8)

Dan sekarang dia sudah berada di istana, di kamarnya tepatnya. Dia tersungkur begitu keluar dari cermin di kamarnya. Betapa ia ingin menangis pada saat itu juga. Namun apabila begitu berapa banyak waktu yang akan habis? pikirnya, dia harus memberikan obat itu pada ayahnya. Maka ia pun berlari dengan kencang sepanjang lorong menuju kamar raja. Membuka pintu dengan satu dorongan keras.
"Ayah!!!"
"Donna" seru sang Ratu. "Kemana saja kau dua hari ini nak??"
Sang raja belum sadar rupaanya.
"Aku mencari obat untuk ayah bu"
Dengan cepat Donna menuangkan obat itu ke sendok, dan menyuapkannya. Sungguh ajaib! Obat itu bereaksi amat cepat. Sang raja terbatuk. Raja terus batuk dan muntah.
"Panggilkan dokter bu!" Kata Donna.
"I...iya nak" sang Ratu keluar.

Pada saat itu batuk raja mereda, dan berhenti. Ayahnya berbaring lagi, namun sudah membuka matanya. Dia sudah sadar walaupun masih agak lemah, Donna menangis, di samping ranjang ayahnya. Ratu datang dgn membawa dokter, dia tercengang melihat Raja yang sudah sadar. "Yang Muliaaa" sambil menghampiri Donna yg sedang menangis.

Setelah diperiksa ulang, Raja dinyatakan telah sembuh total. Betapa bahagianya Donna.

Namun dibalik kebahagiannya itu, sebenarnya masih ada kehampaan di dalam hatinya.
Hari, minggu, dan bulan berlalu, namun Donna masih merasakan kehampaan dalam dirinya.
"Mungkin ini yg dinamakan patah hati" Donna membatin.


Ooooooooooo


Disamping itu kehidupan Donna membaik, dia menjadi ramah, dan murah senyum. Sekarang semua orang menyukai dia. Dia pun bahagia akan itu.
Tepat dua bulan setelah kesembuhan ayahnya, Cheery pulang dengan Mark. Kataya mau meminta izin atas pernikahannya. "Yang muliaaaaa" jeritnya
"Cherr!!! Kau pulang juga rupanya, hampir saja ku bilang kau sudah mati pada orangtuamu" katanya. "Kau jangan memanggil aku yang mulia lagi"
"Haha, benarkah? Kurasa memang akan lebih baik kalau aku memanggilmu Donna. Ya Tuhan, tak kusangka aku akan menikah!" Jeritnya.
"Aku jugaa" Wajah Donna memerah, sudah lama ia tidak seriang itu. Mereka berbincang-bincang seperti kawan lama.
"Ngomong-ngomong, kau kesini dengan siapa saja?" Tanya Donna.
"Aku, dan Mark. Saja kenapa?"
"Ah, tidak. Tidak apa-apa" katanya. Air mukanya berubah murung.
"George bilang dia mau menyusul, tapi entahlah" lanjut Cherry.
"George mau kesini??" Tanya Donna semangat. Cherry menatap nakal. "Sungguh aku baru pertama kali melihatmu begini Don" Donna tersipu.

Hari sudah agak gelap, Donna sendiri di kamar, lalu ada surat menyelip dibawah pintunya. Donna membuka pintu, dan tak ada orang yang muncul. Iapun masuk lagi.
Isi surat itu : "Temui aku di halamanmu, -George-"
Donna tersenyum bahagia. Dan segera berberes-beres. Dia akan bertemu George.
Halaman sudah gelap, Donna membawa sebuah lampu tangan untuk menerangi jalannya. Disana dia disambut sosok yang familier dengannya. Donna memandang dengan senyum sumringah. “George?”
Donna mendekat, dan sosok itu diam disana.
"Kau datang George?" Donna tersenyum.
"Maafkan aku, kurasa aku membuatmu sedikt lama menunggu pasti?" Jawab George, dengan senyuman yang juga tidak dapat disembunyikan oleh gelapnya malam.
George bertelut, meraih tangan Donna. mengeluarkan kotak merah dari sakunya, dan membukanya. Sebuah cincin berlian didalamnya.
"Yang Mulia, Putri Donna ... Mau kah kau menjadi istri ku?"
Donna tak berkata apa-apa selain mengangguk. George bangkit berdiri dan memeluknya dengan erat
"Terimakasih" katanya,

-tamat-

Donna (pt 7)

"Kita sampai! Kau boleh turun sekarang Cher" kata mark. "Disini?" Sambar Donna.
"Kau turun lah, mau sampai kapan kau diatas kuda"kata George
"Aku tak melihat ada rumah sama sekali disini" kata Cherry, disusul oleh anggukan setuju dari Donna.
"Tunggu sampai kau mendongak" kata Mark. Maka mereka pun mendongak. Rumah pohon. Penyihir itu tinggal dirumah pohon rupanya. Wajah dua gadis itu terperangah melihatnya.
"Tapi bagai mana kita masuk? Aku tak melihat tangga disini" tanya Donna sambil melihat sekeliling, George pun mulai berteriak "Ny.Zimbi!!"
"Nyonya kau didalam? Boleh kami masuk!" Katanya lg.
Lalu terdengar suara wanita dr dlm. "Siapa itu kami?"
"Aku George, Sepupuku Mark, Putri dan seorang pelayannya"
"Sebutkan kata sandinya nak!"
"Mana aku tau!" George mengutuk.
"Kau benar, itu kata sandinya" lalu sebuah tangga dengan tali turun dari celah petak di rumah pohon itu.
“Naiklah”, kata George menatap Donna. Akhirnya dia naik disusul oleh Cherry, Mark dan terakhir George. Donna begitu antusias ingin melihat isi rumah si penyihir. Isinya luar biasa! Betul-betul layaknya seorang penyihir. Ada cermin sebesar Tembok yg retak-retak. Ada baskom ramuan mendidih. Dll

Mereka masih terkesima dengan isi rumah itu. Dan Ny.zimbi pun muncul. Diluar dugaan Donna. Ny.Zimbi amat cantik, dan wajahnya ramah. Mereka tadinya berpikir akan bertemu penyihir gendut yg suka berbicara dgn binatang selain anjing. Ternyata ... Donna terkaget kaget.

"Kalau boleh ku tebak, kau adalah putri raja yg ingin menyembuhkan ayahmu lalu menemui ku kan?” Tanyanya .
"Bagaimana kau bisa tau?"
"Aku penyihir, nona, jangan terlalu heran" katanya sambil mengibaskan tangan. "Dan kau Pangeran George, lama tak bertemu" George menegang.
"Maaf, tunggu sebentar! Siapa? George? Pangeran?" Donna memotong pembicaraan dengan mata terbelalak & keheranan. "George…. Kau … seorang pangeran?" Donna bertanya, matanya menyipit, menyelidiki. George hanya diam.
"Kau pembohong George" kata Donna agak sedikit dengan wajah jijik.
"Aku tidak pernah berbohong. Itu karena kau tidak pernah bertanya" jawabnya membela diri.

"Tunggu, kalau George adalah pangeran, apakah mngkn Mark juga?" Tanya Cherry tiba-tiba menatap Mark.
"Aku? Tidak Cher, satu pengeran cukup"
"Tentu saja satu pangeran cukup, dan satu. Orang putra mahkota. Iya kan Markus?" Cetus Ny.Zimbi
"Putra apa? Putra mahkota? Kalian bercanda!" sekali lagi Donna tercengang akan kenyataan yang baru diutarakan oleh Ny.Zimbi.
“Mark, katakan bahwa Ny.Zimbi hanya bercanda” pinta Cherry
"Dia tidak bercanda Cher, dan dapat kupastikan kau akan menjadi Putri mahkota bagiku" Jawab Mark menggenggam tangan Cherry. Suasana menjadi aneh.
"Kurasa kalian harus berhenti sekarang, karena aku mau muntah melihat kalian berdua" seru Donna.
"Aku ikut dengan mu!" Kata Ny.Zimbi mengangkat tangannya.

"Sudah lah, kita sudahkan saja. Ny.Zimbi kau tau tujuan kami datang kemari. Bolehkah kami meminta obat itu sekarang?" Tanya George.
"Oh, tentu saja, aku sudah tau kalian mau datang, Pyrota mengawasi kalian sepanjang jalan asal kau tau, dia burung beo yang cerdas." Katanya
"Burung beo katamu? Jadi bayangan yg sering mucul itu, burung beo?" Kata George seperti tdk percaya.
"Memang kau kira apa?" Tanya Ny.Zimbi sambil tertawa mencemooh.
"Nah ini dia, obatnya" mengeluarkan sebuah botol kecil dr lemari, lalu mengisinya dengan ramuan yg ada didalam kuali mendidih diatas kompor.

"Segera berikan pada ayahmu, obat ini hanya bisa bertahan selama satu jam, atau efeknya akan hilang" menyodorkan botol itu pada Donna.
"SATU JAM!!" Mereka serempak berteriak, Ny.Zimbi pun ikut kaget.
"Ada apa anak-anak? Kukira kalian sudah mendapat yg kalian mau kan?"
"Begini, kurasa kau salah hitung Nyonya, karena perjalanan kami kesini butuh dua hari, dan kau memberi kami satu jam untuk kembali?" Donna merepet.
"Aku tidak sejahat itu tuan putri, aku pasti punya alasan, kau lihat cermin itu? Kau akan pulang dari sana" Menunjuk cermin sebesar dinding.
"Kurang dari satu menit kurasa" Mark berkomentar.
"Kurasa kau benar Mark" sahut Donna.
"Jadi tunggu apa lagi?" Kata Donna menuju cermin, namun semuanya berdiam, seperti hanya Donna yang antusias.
"Ada apa ini? Kalian tidak ikut dengan ku? Cherry?" Donna menatap mereka satu persatu tercengang.
"Akuu.. Maafkan aku yang mulia, tapi kurasa aku akan ikut Mark ke negerinya, kau tau maksudku kan, maafkan aku" Donna tak habis pikir. Wajahnya memancarkan bahwa dirinya tidak terima.
"Baiklah Cher, tapi kuharap kau sempat kembali untuk meminta ijin dari ibumu, atau aku akan bilang kau mati dimakan harimau!" Ungkapnya.
Tenang saja!" Kata Mark dan Cheery bersamaan.
"Tenang yg mulia, aku pasti kembali, walaupun sebentar. Untuk pamit kepada mereka" lanjut Cherry
"Dan kau George, well, aku tak berharap betul kau mau ikut" ujar Donna sambil tercekat.
"Tugasku sudah selesai, Putri" jawab George.
Donna bisa merasakan airmata yg hampir keluar dari pelupuk matanya. Suaranya gemetar menahan tangis. Menelan ludah dan menggigit bibirnya.
"Baiklah, aku pulang.. Terimakasih banyak teman-teman, Sungguh aku berhutang banyak pada kalian. Semoga kalian bahagia" ucapnya lirih
"Kau kehilangan waktumu nona" Ny.Zimbi mengingatkan.
"Baiklah, sampai jumpa" sesaat Donna melompat ke dalam cermin.

Donna (pt 6)

"Ooh, Hey George!! Kukira kau akan membangunkan ku untuk berjaga!" Katanya Mark yg terbangun sambil meregangkan tubuhnya. Disusul oleh Donna. George memperhatikan saat Donna terbangun, tak sengaja Donna melihatnya. Wajah mereka masing2 berubah merah mengingat semalam.

Mark menghampiri Cherry. "Cherr, bangun.. Mau sampai kapan kau tidur begitu?" sambil menggoyang2-goyangkan Cherry. Cherry mengeluh lalu terkejut.
"Astaga, sudah pagi rupanya" George & Donna tak tau sejak kapan kedua temannya ini menjadi sangat....sangat akrab!

"Jadi bagaimana tidur mu?" Tanya George,
"Lumayan juga setelah di coba, Astaga George. Kantung matamu!! Kau tidak tidur semalaman?"
"Terimakasih kau telah memperhatikan kantung mataku Don, Namun sungguh aku tak perduli. Aku ingin kita cepat sampai ke Ny.zimbi" jawabnya
"Okeey, kurasa kita berangkat sekarang!" Kata Mark dari dekat kuda. Ternyata dia sudah menyiapkan segalnya.
"Trims sobat! Kita sudah dekat"

Mereka memulai perjalanan. Namun ternyata kali ini lebih berbukit dan banyak jalanan yg melandai. Kata Mark segini lumayan, asal tidak hujan.

Perjalanan kali ini pun terasa lebih kaku antara Donna dan  George. Mereka benar-benar diam saja selama pejalanan dan waktu mereka makan siang tadi. Sampai hari mulai sore, mereka berhenti lagi. Kali ini dibawah sebuah pohon maha besar yang dirasa umurnya sudah lebih dari 100 tahun.

Jumat, 27 Januari 2012

Donna (Pt 5)


Mulai dari sana mereka berkuda, Cherry ngotot tidak mau bersama George. Jadi Donna dengan George lalu Cherry dengan Mark. Dalam hati sebenarnya Donna ingin naik kuda bersama Mark daripada bersama si Judes George ini. Sepanjang perjalanan mereka diam-diaman saja. Terkadang terdengar Mark dan Cherry yg bercanda-canda diatas kudanya. Sedangkan mereka berdua seperti sedang perang dingin saja memandang ke depan dengan kaku. Namun diam-diam Donna memperhatikan dengan sesama sosok George yang dihadapannya itu.

Secara fisik George memang tdak kalah menawan daripada Mark, namun Mark terlihat lebih hangat dan lebih ramah daripada George yg angkuh ini. Rambutnya coklat terang, sama dgn warna matanya, kulitnya kuning pucat, dan tubuh yang tinggi tegap dengan punggung yg lebar.

Akhirnya, Tak tahan dengan kebisuan diantara mereka, maka Donna memberanikan diri memulai pembicaraan. "Hutan ini sepi sekali yah?" Katanya asal-asalan.
"Ini hutan, wajar kalau sepi" jawab george sama ngasalnya.
Tapi Donna tak berhenti disitu.
"Kau, siapanya mark?" Tanyanya agak meragu.
"Kau siapanya Mark?"
"Loh kau belum jawab tapi malah balik nanya sih?"
"Aku, sepupu Mark" jawab George. "Sekarang kau yg jawab!"
"Aku? Aku kenal Mark beberapa hari yang lalu. Dia menolongku waktu jatuh dari kuda" jelas Donna.
"Oh..." Balas George mengangguk
"Oh iya! Kau sudah pernah ke tempat Ny.Zimbi itu?"
"Pernah, dulu sekali.. Dia wanita yg aneh. Kau tau... Dia benar-benar aneh menurutku"
"Maksudmu? Kurasa memang semua penyihir harusnya aneh kan?" George mengangkat bahunya terdiam. Lalu tiba-tiba kuda mereka berhenti.
"Kenapa berhenti?" Tanya Donna.
George diam melihat sekeliling dengan tajam. Memberi sinyal kepada Mark yg dibelakang untuk berhenti juga.
"Ada apa?" Tanya Mark.
"Entahlah, sepertinya aku merasa kita sedang diawasi" "Benarkah? Aku tidak. Ayolah kawan, jangan terlalu perasa"
"Aku serius, tapi yasudahlah. Kita lanjut saja. Tapi kuminta kau pasang terus pengawasnmu. Jangan lengah!"
"Baiklah..." Mereka lanjut lagi.
Hari mulai gelap, mereka memutuskan untuk istirahat. Cherry mengeluarkan makanan dan selimut perbekalan mereka. Mark membuat api.
"Aku mengantuk sekali" kata Donna sambil menguap.
"Kalian tidurlah dulu. Aku akan berjaga" ucap Mark pada Donna dan Cherry.
"Kau juga tidurlah, kita harus bergilir sampai pagi" ucapnya pada George.
"Tidak, kau dulu saja. Aku belum mengantuk" katanya. Mark pun tidur
Sudah hampir 1jam George berjaga di dekat api yg dibuat mark tadi. Tiba" terdengar bunyi-bunyi dari belakang. *kresk kresk kresk*
George kaget dan berdiri, sesaat kemudian dia melihat sekelebat bayangan di balik pohon didekatnya. Gerakan bayangan itu amat cepat.
"Siapa disana?" Katanya. Namun suasana sepi kembali.
"Ada apa George?" Donna rupanya terbangun dan sudah berdiri di belakangnya.
"Kau!! Mengagetkanku saja!" kata George melihat Donna yg berdiri dengan selimut dibahunya. "Kenapa kau tidak tidur?"
"Aku tidak biasa tidur di tanah yg keras bgitu"
"oh, iya.. Kau seorang putri. Wajar kalau kau begitu" nadanya menyindir. Donna tak menjawab
Mereka duduk dekat api unggun, namun tak ada satupun yg mencoba bicara. Sampai akhirnya "Aku rindu ayahku" Donna menggumam sendiri. George menoleh ke arah Donna. Dalam sepersekian detik. Ada rasa simpati dalam dirinya terhadap Donna. Dia ingin menghibur wanita itu. Namun yg bisa dilakukan George hanyalah mengusap-usap kepala Donna. "Tenanglah, ayahmu pasti bisa sembuh. Dia juga merindukanmu kurasa" Tambahnya
Donna meraih tangan George dari kepalanya lalu kemudian menggenggamnya. Jantung George berdegup sangat kencang, namun dia harus tetap tenang...tenang… kau harus tenang. George membatin.
George makin gugup, entah kenapa dia bisa segugup itu. Donna memang cantik. Tapi ini bukan pertama kalinya dia berpegangan dengan wanita cantik. Donna menoleh, menatap George dengan matanya yang sendu
"Terimakasih George. Terimakasih kau mau membantuku, dan sekarang kau menghiburku, terimakasih banyak" Ucap Donna sambil tersenyum.
George meleleh.
Belum sempat menjawab apa-apa, tiba-tiba Donna suah mendekat dan memberinya sebuah kecupan tepat di pipi. George kaget sekali. Wajahnya merah padam tidak berani menatap wajah Donna secara langsung.
“Kau tidurlah lagi, kalau lancar kurasa besok kita sudah sampai di tempat Ny.Zimbi”
Sebenarnya Donna juga tidak mengerti apa yang baru saja dia lakukan. Dia mengutuki dirinya sendiri karena bertindak diluar akal sehat.
“Baiklah, aku akan mencoba tidur. Malam George”
“Iya, malam”

Akhirnya semalaman George tidak tidur sama sekali. Bayangan-bayangan yang semalam dilihat juga tidak muncul sama sekali. Sampai matahari terbit.

Selasa, 24 Januari 2012

Donna (Pt 4)


Sama kaget nya, Mark pun terbelalak. "Tu..tuan putri?!" George bingung,
"Siapa tuan putri? Wanita ini??" Menunjuk kearah Donna. "Serius?" lanjutnya.
"Sekarang kau tau siapa aku yang hampir mati ditabrak kuda mu! Kurasa belum terlambat kalau kau mau minta maaf!",
"Minta maaf? Aku? Kau bercanda. Aku tidak akan mau!"
Melihat ketegangan ini Mark menegahi "Hei, sudahlah George, apa susahnya sih?" Melihat Donna " Maafkan kami Yang Mulia" Donna mengangguk.
George diam saja, kembali ke kuda. Seperti memeriksa keadaan kudanya. Atau mungkin hanya pura-pura memeriksa, karena malu dan gengsi.
Mark tetap ditempat. "Sebenarnya apa yang sedang dilakukan yang mulia disini?"
"Aku? Umm, Sebenarnya ceritanya panjang. Begini.....” lalu Donna menceritakan semuanya, mulai dari peristiwa kebun buah dan ayahnya yang jatuh sakit karenanya.
"Begitu lah, jadi kupikir mengingat supir kereta yang kabur, dan kami juga tidak tau arah. Jadii....." menatap Mark, dengan maksud tertentu.
Mark mengangkat alisnya, "Maksudmu?? Kami .. Oh aku mengerti maksudmu. Tapi aku tidak yakin rekanku disana akan setuju"
Mereka serempak menoleh ke arah George yang sedang menyibukkan dirinya sendiri.
"Tenang, aku ada ide, kau Cherry, berbaringlah!! Sekarang!"
"Aku? Kenapa?"
"Sudah, lakukan saja, jangan buka mata sebelum aku suruh! Sekaraaanngg!!"
"Di tanah ini Yang mulia??"
" Iya, masa dikasur!!"
Cherry menurut, dia berbaring di tanah, "Sebenarnya apa maumu?" Tanya mark.
"Kau ikuti saja!" Lalu donna mulai berteriak. "ASTAGA CHERRY!!"
"Cherry kau kenapa?? Bangun!!" Donna menjerit2 & duduk di sebelahnya. Cherry membuka mata mengintip, yg disambut oleh mata melotot Donna.
"Mark, kita harus mengangkatnya kedalam kereta. Tapi kurasa kau tidak kuat sendiri, harusnya kita bisa mendapat bantuan seorang lagi!"
Merasa tersindir, George menengok. Namun masih ragu mau menolong atau tidak "George, kurasa aku butuh bantuanmu!!" Panggil Mark.
Dengan wajah kesal, George mendatangi mereka dan bersama-sama menggotong Cherry kedalam kereta "Tak seberat yg kukira" katanya.
"Aku sedang lemas" jawab mark membela diri. "Kau naik lah, aku akan mengemudikan keretanya." Lanjut mark bergegas ke tempat kemudi.
"Kenapa aku harus ikut? Aku tidak mau satu kereta dengan orang macam dia" menoleh ke arah Donna yg sudah didalam. "Lagipula kudaku?"
"Baiklah, kau bawa kudamu ikut denganku, kita harus ikut George. Mereka cuma berdua saja. Kurasa kau masih punya rasa kasihan kan?"
"Terserah kau lah!!" George akhirnya menyerah. Membawa kudanya mengikuti disamping kereta.
"Kau mau bawa mereka ke mana?" 
"Kau tau Ny.Zimbi?"
"Penyihir itu? Jangan bilang kita akan kesana? Kau bercanda mark! Memang dia sakit apa sampai harus dibawa kesana?"
"Bukan, kita bukan kesana untuk mengobati wanita itu. Tapi untuk mengobati sang Raja. Ayah tuan putri yang sedang sakit keras" jelas Mark. "Kurasa, kita harus berhenti disini, kau tau jalan kesana agak sulit ditempuh apabila kita membawa kereta ini. Suruh mereka turun"
Dengan ogah-ogahan George mengetuk pintu kereta. Mereka menjawab dari jendela.
"Ada apa? Kita sudah sampai?"
"Hooo, kau pikir sedekat itu. Turunlah, dari sini kita naik kuda saja. Tidak mungkin naik kereta ke rumah penyihir Zimbi." Donna turun dengan ragu "Penyihir siapa?"
"Ny.Zimbi. Menurut peta ini, tempat yang kau maksud sepertinya rumah Ny.Zimbi. Dia penyihir hutan" kata Mark yang baru turun dari tempatnya.
"Penyihir? Kupikir dia tabib. Maksudku, kupikir orang yang bisa menyembuhkan ayahku adalah tabib. Siapa tadi namanya? Zimbi?" Donna heran.
"Tempatnya masih jauh, beruntunglah kalian bertemu kami, kalau tdk kalian mungkin sdh dimakan harimau" Ketus George "Harimau?" Cherry panik.
"Jangan dengarkan dia Cher, dia suka bercanda. Yang harus kau takutkan adalah George yg mungkin menyerangmu saat kau lengah" Cherry merona.

Donna (Pt 3)


Kereta melaju, Donna diam saja. Namun Cherry tetap saja bingung.
"ehm, ummm Yang mulia, kalau hamba boleh bertanya sebenarnya kita hendak kemana?" Cherry memulai pembicaraan. Donna mengernyit.
"Bagaimana yah... Begini, kau ingat nenek tua di kebun buah itu? Dia yg menyuruhku kesini." Donna menunjukkan gulungan peta yang disimpannya
Cherry makin bingung, "Kenapa dia bisa menyuruh kita ketempat itu? Memang ada apa? Ada apa memang? Memang apa ada?" 
"Entahlah, menurut nenek itu. Ditempat ini kita bisa menemukan sesuatu untuk menyembuhkan ayahku." Ada sedikit keraguan didalam ucapannya.
Percakapan berhenti, kereta terus melaju. Malam semakin larut dan akhirnya mereka tertidur di dalam kereta sampai pagi. Pagi datang, dan Donna terbangun. Keretanya sudah berhenti. Dia membuka jendela, dan kesilauan karena ternyata matahari sudah lumayan tinggi. Dia turun dari kereta, namun mendapati bahwa pengemudi kereta tak ada disana & tidak tau ada dimana dia sekarang. Sepertinya dekat hutan. Dengan panik dia membangunkan Cherry yg masih tidur di dalam kereta.
"Cherry, bangun!! Hey pelayan!! Bangun!! Pengemudi keretanya hilang!!"
Dengan sedikit terjengkang, Cherry bangun. Agak ling-lung "hah, ada apa? Ada apa? Siapa yang hilang?" Tergopoh-gopoh keluar dari kereta.
"Masinisnya hilang"
"Siapa yang hilang?"
"MASINIS! Kau ini tuli??"
"Hah! Lalu! Yang mulia, kita harus bagaimana? Kita dimana sekarang?"
"Aku juga bingung, menurutmu kita dimana sekarang?" Donna mulai membuka gulungan petanya. Mencoba mencari arah walau tidak paham betul.
Dalam kebingungan mereka, tiba-tiba dari dalam hutan terdengar seperti suara kuda melaju ke arah mereka. Donna antara takut & berharap. Suara itu semakin dekat. Donna berjalan menuju arah suara itu. Makin dekat .. Makin dekat .. Sangat dekat ..
"KYAAAAAA!!!"
"HUWAAAA!"
Donna hampir ditabrak oleh seekor kuda, tapi dia sempat melompat ke samping, terjatuh ke dedaunan yg berserakan. "Yang Mulia!!" Jerit Cherry berlari membantu Donna untuk berdiri dan memeriksa apabila ada luka. kuda lainnya muncul dari dalam hutan.
"Ada apa George?" Seru pemuda yang baru datang, George turun dari kudaya
"Hey! Kau sinting? Mau mati??" Setengah berlari ke arah Donna.
Donna yg baru berdiri pun kaget dan terpancing "Kau yang nyaris membunuhku!! Harusnya kau yg minta maaf? Kau tidak tau aku siapa? Hah?"
"Aku tak peduli kau siapa!!" Balas George. Lalu dari belakang George, muncul temannya tadi. Donna ternganga. "MARK??"





Donna (Pt 2)


Tanpa ba bi bu, Donna segera angkat kaki pulang ke istana sambil memikirkan kata" si nenek untuk pergi ke tempat di gulungan peta. Tetapi karena melamun dia tidak melihat jalan, sehingga dia dan kudanya terperosok kedalam kubangan, saat dia mencoba untuk bangun ada tangan yang diulurkan kepadanya. Sambil jengkel Donna menyambut tangan tersebut, dia mendongak melihat siapa orang yg hendak membantunya itu? Donna terkesima saat itu juga.
Pria yang amat tampan, kulitnya kecoklatan dengan garis wajah yg keras namun sangat serasi dengan matanya yang dalam. Donna terperangah
"Mau sampai kapan kau duduk disana cantik?"
"Ah, i..iya akuu.. mmm... Sudahlah, lupakan" meraih tangan pemuda itu dan bangkit berdiri. "Terimakasih!" lanjut Donna, sambil tersenyum kikuk. Dia dapat merasakan wajahnya yang merah padam. Antara malu dan gugup. Baru sekali dia merasa segugup ini.
"Tak apa, kau terluka? Ahh, kau terluka rupanya" melihat lecet & sobek di sekujur tubuh dan pakaian Donna. "Ikut aku! Aku akan mengobatimu"
Tetapi tiba-tiba Donna sadar "Tunggu dulu!! Kau mau bawa aku kemana? Aku harus pulang sekarang juga. Karena Ayahku sedang  membutuhkanku!!" Ternyata Donna tak melupakan tugasnya dari si nenek di kebun buah untuk pergi ke tempat apalah sebutannya itu. Penyihir mungkin.
Si pemuda hanya diam menatap reaksi Donna. "Kau terluka dan harus diobati. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu dimanapun itu"
Tangan Donna ditarik, lebih tepatnya, pemuda itu memapah Donna dengan hati-hati. Ke sebuah gubuk kecil ditepi jalan. Begitu sampai disana. Si Pemuda segera mengambil kotak dari sebuah lemari disudut ruangan. Suasana kikuk diantara mereka begitu terasa.
"Namaku Mark.. Kau?"
"Donna, ehm Putri Donna"
Mark berhenti, mengerjapkaan matanya menatap Donna "Kau pasti bercanda.. Yang mulia putri Donna! Kaukah itu yang mulia?" Mark bertelut dan mengecup tangan Donna.
"Seharusnya kau tau siapa aku dari tadi!! Beraninya kau membawaku ketempat kumuh ini!!" Donna tak mengerti kenapa ucapannya begitu kasar.
"Maafkan hamba yang mulia, tapi kau tidak ada pilihan lain selain ini. Atau kau tetap di jalanan sana bersama kudamu & terluka" jawab Mark
Donna tak bisa menjawab apa"lagi. Mark mulai membersihkan dan membalut luka-lukanya. Dengan seksama. Donna diam saja sambil memperhatikan, kadang mendesis menahan perih ketika Mark mengusap lukanya dengan handuk.

Mark telah selesai mengobati, "Kita kerumahmu.. Err, maksudku Istanamu sekarang yang mulia?" Mark membukakan pintu. Donna berjalan keluar.
"Biar, aku akan pulang sendiri, aku buru-buru"
Donna hendak menaiki kudanya yg diikat di tiang pintu gubuk. Mark menghentikannya.
"Aku sudah bilang kalau aku yg akan mengantarmu tuan putri. Aku bertanggung jawab atas keselamatanmu" Mark berkeras Menatap dalam mata Donna.
Mark naik ke atas kuda. Menarik Donna untuk naik ke atas kuda, dan duduk dibelakangnya.
"Kau siap??" Tanyanya. "Err, Iya!" Donna berpegangan ke pinggang Mark.
Mereka mulai melaju, dan akhirnya sampai di istana. Grand menyambut seperti biasa. Namun wajahnya agak heran melihat Mark.
Donna turun dari kudanya. "Yang mulia dari mana saja? Pergi dari pagi subuh dan baru kembali? dan...ehhemm.." Grand melirik ke arah Mark
"Ceritanya panjang Grand, bagaimana keadaan ayah? Aku harus bertemu ayah sekarang" Donna berbalik ke arah Mark yg baru turun juga dari kuda.
"Kau ikutlah dengan Grand, dia akan memberikan upah padamu. Katakan jumlahnya, biar Grand yg urus" ucapnya, melirik Grand. Grand mengangguk. Baru saja Donna hendak pergi,
“Tuan Putri, mungkin kau salah mengerti. Tapi aku menolongmu bukan untuk meminta uangmu”
"Terserah kau, tapi yang pasti aku tak mau punya hutang padamu" Jawab Donna yang agak terkejut dengan penolakan itu.
"Hamba pulang dulu yang mulia, senang bertemu denganmu"
"Terserah kau Mark! Terserah!! Aku tak perduli denganmu!!" Donna berteriak jengkel, namun Mark tak menoleh sedikitpun. Donna melengos ke arah Grand.
"Grand, panggil Cherry.. Suruh dia siapkan kereta untukku. Kami akan bepergian. Jangan tanya kemana. Lakukan saja apa kataku" perintahnya.
Walaupun agak bingung, namun Grand melaksanakan saja. Sedangkan Donna segera bergegas ke ruangan sang Raja. Menengok keadaan sang ayah.
Sang Raja nampak amat lemas, pucat, dan tak berdaya. Sungguh perih bagi Donna melihatnya. Apalagi mengingat bahwa dialah penyebabnya. Airmata pun tak terbendung lagi, dia menangis disamping ayahnya yang lemah. "Maafkan aku Ayahanda" ucapnya sambil terisak.


Donna (Pt 1)


Suatu hari, di negeri antah berantah. Hiduplah seorang putri. Namanya Donna. Layaknya seorang putri. Dia cantik menawan sempurna rupanya. Sayangnya, tak seperti rupanya yang begitu cantik. Putri Donna memiliki tabiat yang sangaaaatt buruk. Penuh dengki, dan suka memfitnah. Tidak hanya disitu, putri donna juga tidak suka apabila ada orang yang melebihi dia. Lebih cantik, lebih pintar, lebih apapun. Dia tdk suka.

Suatu hari, putri Donna pergi bersama pelayannya Cherry ke sebuah kebun buah. Buah disana segar & ranum. Donna tergiur ingin memakannya. Tanpa ragu dia memetik sebuah apel yang amat merah dan besar. Cherry dengan ragu-ragu berkata “yang mulia, bukankah lebih baik kita minta izin dulu??”
“Untuk apa? Aku tidak perlu minta izin untuk melakukan apapun!! Kau pelayan belagu!! Mau kupecat!??”
“ti..tidak tu..tuan putri.” Jawabnya ketakutan

Donna lalu menggigit apel tersebut, tak disangka, apel itu sangat manis! Apel termanis yang pernah dirasakannya selama ini! Sangking senangnya, donna ingin memiliki seluruhnya. Maka diperintahkannya si pelayan memetik semua apel di taman itu. Pelayan menurut saja. Donna memakan sisa apelnya, sambil memantau Cherry yang memetik apel-apel disana.Tiba2 dari belakang donna muncul seseorang.

"Nona muda.. Kurasa kau sedang mencuri apel-apel ku. Kau harus dihukum!" Donna kaget setengah mati. Seorang nenek muncul tiba-tiba dari belakangnya
"Kau nenek tua, beraninya kau menuduhku mencuri!! Kau pasti tak mengenal aku. Aku adalah tuan putri!!!" Donna melotot, namun menyadari tubuhnya telah mundur sedikit.
“Sekalipun kau putri Raja. Pencuri tetaplah pencuri. Karenanya kau harus dihukum nona.”
Tangan si nenek mencoba menggapai Donna.Donna sontak menghardik, sehingga si nenek terjatuh ke tanah. "Persetan kau nenek tua!!!" Memberi aba-aba pada Cherry untuk pergi segera dari sana.
Cherry mengikuti Donna, namun tak tega melihat si nenek. Lalu dia membantunya berdiri. "Terimakasih nona, kebaikanmu adalah kebahagiaanmu" Cherry tdk begitu mengerti maksud si nenek. Tp karena dia terburu-buru, maka dia hanya bisa tersenyum pada nenek itu dan ikut pergi dengan Donna.

Di perjalanan pulang. Donna terngiang-ngiang ucapan si nenek. Ada sedikit rasa takut dalam dirinya. Tapi diabaikannya. Dia makan apel lagi. Sesampainya di istana. Grand, sang kepala pelayan tergesa-gesa menghampiri dengan wajah yang pucat pasi.
"Ada apa Grand?"
"Beg..begini nona.. Ayah nona... Eh maksudku, Raja.. pi..pingsan, dan belum sadar"
"APPAAHHHH !!!???? " Donna segera berlari ke tempat sang Raja berada. Dia pucat pasi. Disampingnya, sang ratu menemani sambil tersedu-sedu. Mereka berpelukan.
Donna terus berada di samping sang ayah sampai larut malam. Kemudian Ratu berkata “Tidurlah nak, ayahmu akan baik-baik saja.” Donna menurut.

Dikamarnya, Donna melihat, ada sepucuk surat di atas mejanya.. Dengan ragu, dia merobek dan membaca isinya. Bukan main Donna terkejut. Di surat itu tertulis:
"Pencuri adalah pencuri, karenanya dia harus dihukum!" Membacanya lutut Donna gemetar.. Ini tidak mungkin! Batinnya. Pandangannya kabur, dan pikirannya kalut saat itu juga. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain menelungkupkan wajah diantara kakinya depanjang malam tanpa sedikitpun tertidur.

Esok paginya, subuh tepatnya. Tanpa ditemani siapapun. Donna menunggangi Kuda menuju kebun buah yang kemarin didatanginya. Bertemu si nenek.
"Apa yang telah kau lakukan nenek tua??!!!" Teriaknya begitu melihat nenek itu.
"Menghukummu Nona muda" Nenek Dengan tenang menjawab.
Donna terjatuh, tubuhnya lemas namun tetap menatap benci "Kau mau membunuh ayahku???"
"Aku? Tidak.. Aku hanya mau mengingatkanmu"
“Kau begitu sombong nak, orang-orang membencimu. Namun kau tidak menyadarinya. Aku hanya ingin kau menyesali perbuatanmu terhadapku!”
“Baik..baiklah, maafkan aku.. Maafkan aku! Puas kau? Sekarang ikut aku ke istana. Sembuhkan ayahku sekarang juga!!!”
Namun nenek itu diam saja ketika Donna hendak menarik tangannya untuk ikut ke istana. "Tidak semudah itu nona muda" 
"Apa lagi sih!! Kau mau membunuhku sekalian disini? Apa maumu sebenarnya???"
Nenek itu diam, sambil mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari saku dan memberikannya ke Donna.
Donna penasaran, membuka gulungan tersebut yang isinya seperti sebuah peta. Usang dan agak buram. Dia mengernyit ke arah nenek. "Apa Ini??"
"Itu adalah penunjuk arah ke tempat orang yang bisa menyembuhkan ayahmu. Ajaklah pelayanmu kesana, & bawa perlengkapanmu" si nenek berbalik.
Donna murka atas penjelasan nenek "Kau nenek tua!! Kau tidak bisa menyembuhkan ayahku sekarang?? Kenapa harus aku yang melakukan ini semua"
“Perlu kesungguhan hati kalau kau mau ayahmu sembuh. Kau meminta maaf tapi sepertinya tidak dari hatimu. Keputusan ada ditanganmu nak”





Jumat, 19 Agustus 2011

DAD :)

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya.
Lalu bagaimana dengan Papa?
Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng,
tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......

Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :
"Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .
Kadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa
Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...
Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....
Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Allah tugasku telah selesai dengan baik....
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....
Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Papa telah menyelesaikan tugasnya....
Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal............. :)

*jika beliau sudah tidak ada disampingmu lagi , hanya doamu yang dapat menambah ketenangannya.

love oh love

10th grade

As I sat there in English class, I stared at the girl next to me. She was my so called "best friend". I stared at her long, silky hair, and wished she was mine. But she didn't notice me like that, and I knew it. After class, she walked up to me and asked me for the notes she had missed the day before and handed them to her. She said "thanks" and gave me a kiss on the cheek. I wanted to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

11th grade
The phone rang. On the other end, it was her. She was in tears, mumbling on and on about how her love had broke her heart. She asked me to come over because she didn't want to be alone, so I did. As I sat next to her on the sofa, I stared at her soft eyes, wishing she was mine. After 2 hours, one Drew Barrymore movie, and three bags of chips, she decided to go to sleep. She looked at me, said "thanks" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Senior year
The day before prom she walked to my locker. My date is sick" she said; he's not going to go well, I didn't have a date, and in 7th grade, we made a promise that if neither of us had dates, we would go together just as "best friends". So we did. Prom night, after everything was over, I was standing at her front door step. I stared at her as she smiled at me and stared at me with her crystal eyes. I want her to be mine, but she isn't think of me like that, and I know it. Then she said "I had the best time, thanks!" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Graduation Day
A day passed, then a week, then a month. Before I could blink, it was graduation day. I watched as her perfect body floated like an angel up on stage to get her diploma. I wanted her to be mine, but she didn't notice me like that, and I knew it. Before everyone went home, she came to me in her smock and hat, and cried as I hugged her. Then she lifted her head from my shoulder and said, "you're my best friend, thanks" and gave me a kiss on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

A Few Years Later
Now I sit in the pews of the church. That girl is getting married now. I watched her say "I do" and drive off to her new life, married to another man. I wanted her to be mine, but she didn't see me like that, and I knew it. But before she drove away, she came to me and said "you came!". She said "thanks" and kissed me on the cheek. I want to tell her, I want her to know that I don't want to be just friends, I love her but I'm just too shy, and I don't know why.

Funeral
Years passed, I looked down at the coffin of a girl who used to be my "best friend". At the service, they read a diary entry she had wrote in her high school years. This is what it read: I stare at him wishing he was mine, but he doesn't notice me like that, and I know it. I want to tell him, I want him to know that I don't want to be just friends, I love him but I'm just too shy, and I don't know why. I wish he would tell me he loved me! `I wish I did too...` I thought to my self, and I cried.

source : http://www.boardofwisdom.com/